Pagi dini hari, aku melangkah dari bus travel yang semalaman telah mengguncang kami dalam perutnya. Pagi di bali memang memiliki aura yang berbeda. Jika biasanya setiap pagi kita menghabiskan waktu dengan menghirup segarnya senyawa volatile dari teh , atau kafein kopi, dan bersantai. Akan sangat merugikan jika kita lakukan hal itu di sini, di bali pagi hari ini.
Kami segera melangkah mengikuti orang – orang yang bergerak tak beraturan seperti aliran turbulansi, namun tetap mengarah pada satu titik, titik yang juga akan kami tuju, kamipun mengikuti aliran turbulansi dari obsesi pagi ini, melihat turis asing dan melihat indahnya sunrise dari kuta bali, pulau dewata.
Langkah kaki terus mengiringi hasrat untuk menikmati indahnya sunrise dari pantai kute bali untuk pertama kali, kaki melangkah mengikuti alur, tapi tatapan mataku tak pernah mampu mengikuti alur keindahan bali selama perjalanan singkat dari areal parkir ke pantai, pandanganku tetap padanya, bidadariku, Dzuriyah Sakinah.
Aroma garam air laut mulai menyelinap ke paru – paruku, pantai telah kuinjak dibawah kakiku, seakan aku telah menjajahnya. Kusapu pandangan menyisir lukisan langit yang sedikit berbeda pada batas antara langit dengan ujung lautan yang seakan Nampak bersatu saling beriringan. Kucoba mereka – reka arah sunrise yang akan menghujani kami dengan hangatnya cahaya dari sunrise, sayang usahaku sia – sia karena mendung tipis menutupi sang mentari pagi yang seakan tersenyum padaku karena telah menggagalkan ambisi dan indah bayanganku tentang sunrise.
“van,, kayaknya kita gak bakalan menikmati sunrise ini !!”
“tenang aja, dunia gak berhenti berputar karena satu tujuan gak tercapai”
“terus kita mau ngapain, tujuannya khan emang cuman satu !”
“improvisasi brow, ubah sesuatu yang gak menyenangkan jadi sesuatu yang indah,
contohnya menikmati birunya pantai, cantiknya turis – turis sanur, dan aroma ini,, garam laut yang terbawa angin”
“ngomong sich gampang,..”
Celakanya dia meninggalkannku dengan senyuman yang tidak bisa diartikan, antara meremehkan, kasihan, atau mengolok – olok. (improvisasi), aku mencoba memikirkan kata – kata ringan yang aku rasa cukup masuk akal, kulihat pemandangan sekelilingku dan kutemukan tempat duduk yang kurasa cukup untuk santai. Kudekati tempat duduk yang kelihatan nyaman dan,… ternyata memang nyaman, kunaikkan kakiku sehingga bisa kusejajarkan, kupejamkan mata dan,.. improvisasi, berjemur di pagi hari bagaikan turis.
Entah sejak kapan, mentari mulai Nampak memerah dari kelopak mataku yang terpejam, kuangkat tangan diatas kepala dan kulihat mentari sudah cukup tinggi, melayang 45 derajat dari tampatku dan bumi yang sejajar, aku bangun dari improvisasiku dan melihat waktu telah menunjukkan pukul 7:00, kuingat, waktu kami bersantai di pantai ini hanya sampai 7:30.
Segera aku bergegas dan otakku berjalan tentang logaritma mudah yang membandingkan beberapa perbandingan. 20 menit berjalan sambil bersantai, 10 menit berjalan sedikit cepat sehingga masih ada kesempatan 10 menit untuk kembali berimprovisasi, atau berjalan – jalan disekitar pantai 10 menit dan berjalan sambil bersantai 20 menit. Tanpa waktu lama pilihan ketigalah yang kuambil.
Saat akan mengangkat tubuhku untuk berjalan – jalan, kuamati pemandangan berbeda yang Nampak lebih indah dari harapanku menikmati sunrise, dia sedang tertawa, mengumbar tawa yang merekah bagai bunga yang mekar tiba – tiba, wajahnya putih dikelitik angin laut yang riuh rendah membicarakan kehalusan kulitnya saat berhembus meraba wajahnya, pasir – pasir menempel pada celana sampai betisnya karena cinta yang timbul, menempel dan tak ingin meninggalkannya, dan kulihat megah lautan, dan perkasanya mentari semakin memudar karena begitu hangatnya sinar wajahnya, dia melangkah pelan dan menghampiriku dan sejenak pikiranku berhenti tentang keputusan logaritma sederhana yang aku pilih, dan dia menyapaku, suaranya bagaikan air yang mengalir dalam urat nadiku.
“pulang bareng yuk,…”
“ - - - - - -- - - - - “
“gak mau ya,. !!”
“ah, gak,. Aku lagi mikirin,.. mikirin ervan soalnya dia bawa dompetku”
(padahal dompetku tersimpan rapi tak berpindah dari ransel tas di perut bus pariwisata”
“oh,, kalau gitu ayo pulang, sebalum keburu ditinggal bus lho”
“oke aku mau kok,, lady’s first”
Sambil meniru gaya gentleman aku persilahkan dia selangkah didepanku, yang akhirnya tak berarti karena segera aku mendampinginya dan berjlan bersama disampingya
Akhirnya satu momentum indah kudapatkan di pantai kuta, moment keindahan antara kebersamaan aku dan dia yang saling menceritakan hal – hal ringan dan berbagi keakraban. Waktu terus memandu kami menyusuri tiap rumah dan ruko, kembali ke dalam perut bus pariwisata dan memisahkan kami, karena tempat dudukku bukanlah disebelahya, dan perjalan pun kembali diteruskan seperti terus berjalanya pikiranku tentang hal – hal yang kami ucapkan saat akmi bersama.
Categories:

giamana ? asikkah ?? :)
giamana ? asikkah ?? :)
kata-katanya banyak yang di ulang, padahal kata-katanya udah bagus banget, tapi malah jenuh kalo kata-kata yang udah bagus itu di ulang-ulang.hehe
nice :)
kunjung yaa ke corat-coretku keccil.blogspot.com
nuhun :)
thanks yach, buat dhani (yang selalu ngerti q, n tempat berbagi cerita. hehe), semoga ntar tulisanq tambah bagus. ntar q kunjungin di setiap ada waktu luang dech,. n jangan bosen2 yach coment ke q yang membangun uat diriki